Belajar ber-Islam dari Negeri Piramida

by - August 03, 2019

Islam sangat menjunjung tinggi nilai toleransi, jika ajaran islam yang satu ini di pedomani tentu kita tidak menemukan muslim yang menyalahkan muslim lainya hanya karena berbeda pemahaman, yang sholat memakai do'a qunut menyalahkan yang tidak memakai do'a qunut atau sebaliknya, yang tidak suka tahlilan mengolok-olok yang suka tahlilan, beberapa muslim yang gampang sekali mengatakan ini haram dan itu haram, ini bid'ah dan itu bid'ah kepada muslim lain yang berbeda pemahaman,  mereka juga berpendapat apa-apa yang tidak ada pada zaman nabi Muhammad SAW semua itu bid'ah, celana jeans, kemeja dan pakaian yang sering kita pakai itupun ada yang mengatakan bid'ah, serumit itukah agama islam, pikir saya.

Dulu saya sering kali mendengar bagaimana kemudian muslim Indonesia yang tinggal didesa sebelah timur sholat jum'at dimasjid sebelah barat dan yang tingggal didesa sebelah barat sebaliknya, hanya karena berbeda pemahaman, kelompok yang masjidnya dipel karena sudah dipakai sholat oleh kelompok lain yang tidak sefaham,  entah ini masih sering terjadi atau tidak. 

Tapi ini merupakan potret umat islam pada beberapa tahun terakhir ini, tentu jauh dari cara berislam yang dewasa dan belum bisa mengahargai sesama.

Seharusnya dengan banyaknya kelompok-kelompok Islam di Indonesia menjadikan keindahan islam itu sendiri seperti kata nabi Muhammad SAW "Ikhtilafu Ummaty Rahmah", yang artinya perpedaan kaumku adalah rahmat, bukan menjadi sebab timbulnya perpecahan antar umat Islam seperti yang terjadi di Indonesia pada saat ini. Perlu ditanamkan slogan "kerjasama tentang yang disepakati dan saling menghargai yang tidak sepakati" disetiap kepala umat Islam di Indonesia agar tidak mudah untuk menyalahkan yang lainya.

Saya masih ingat betul apa yang dikatakan KH. Musthofa Bisri, Islam itu mempunyai kelas layaknya sekolahan, ada playgroup, Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar hingga program doktoral, yang masih suka menyalahkan sesama dan yang masih suka kekerasan dalam beragama itu orang-orang yang betul-betul belum faham agama dan tingkatanya masih taman kanak-kanak. Muslim di Indonesia masih harus banyak belajar, kepada siapa? tentunya kepada negara-negara yang banyak orang alimnya, seperti Saudi Arabia, Mesir, Syiria, yaman atau yang lainya.

Namun temen temen harus tau,  bahwa terdapat sedikir perbedaan antara corak keislaman disetiap daerah. Di Saudi Arabia misalnya, pemerintah di Saudi Arabia menentukan faham Islam yang menurut mereka sesuai untuk warganya, bahkan bisa dikatakan hampir seluruh warga Saudi Arabia menganut satu faham saja, bisa anda buktikan ketika berkesempatan untuk berkunjung kesana, cara ibadah mereka sama persis antara orang satu dengan yang lainya, antara masjid satu dengan masjid yang lainya, kalau istilah orang Indonesia mereka berfaham Wahabi, dan ini tidak cocok untuk orang Indonesia yang notabene ada di negara yang menjunjung tinggi nilai demokrasi.

Berbeda jauh dengan Mesir, jika teman teman berkesempatan berkunjung kesini, teman teman akan mendapatkan Islam yang sama dengan Islam Indonesia meski Mesir jauh lebih baik. Ketika sholat di Masjid, saya menemukan banyak sekali perbedaan-perbedaan dalam gerakan sholat antara satu dan yang lainya meski sholatnya bersamaan, terkadang pakai do'a qunut dan terkadang tidak tergantung imamnya. Orang Mesir kebanyakan mengikuti madzhab Imam Syafii, tidak sedikit juga yang mengikuti madzhab Imam Maliki, Imam Hambali dan Imam Hanafi.

Thoriqoh syadziliyah, naqsabandiyah dan lainya juga ada di Mesir layaknya thoriqoh yang ada di Indonesia, ketika Ramadhan, ada yang sholat tarawihnya delapan rakaat dan ada juga yang Dua Puluh rakaat.Orang Mesir sangat menghormati perbedaan, jangankan sesama yang berbeda pemahaman, berbeda agamapun mereka saling menghormati.

Semoga masyarakat muslim Indonesia bisa belajar dari bagaimana masyarakat muslim di Mesir, tidak ada lagi saling menyalahkan sesama. 


You May Also Like

0 Comments