• Home
  • Profile
    • Profile
    • Academia
    • ORCID
    • Google Scholar
  • Table of Contents
  • Karya Tulis
    • Artikel Jurnal
    • Buku
    • Artikel Ilmiah Populer'
  • Catatan
    • Kegelisahan Intelektual
    • Forum Ilmiah
  • Studi Islam
    • Fikih
    • Filsafat
    • Sejarah
    • Tafsir
  • Syariah & Hukum
    • Hukum Internasional
    • Hukum Keluarga
    • Hukum Pidana
  • Tentang Blog
Youtube facebook Linkedin instagram twitter Email

Abdul Malik S.R.

Abdul Malik Salim Rahmatullah

If you haven’t been to the Cairo International Book Fair yet – held annually at the Nasr City but since 2019 are moved into Egypt International Exhibition Center (EIEC) in El Tagamo’ Al-Khames (Fifth District) in New Cairo during the last week of January and spilling into the first week of February – you should check it out. 

CIBF is the Arab world’s oldest and largest book fair, and in recent years it has drawn over one million visitors each year. The aims of the fair are to provide a large, well-stocked market of books to an Egyptian audience, but you don't have to surprised because of you may also have meet many Malaysian and Indonesian students there were, all carrying bags of recently purchased books for their studies, most likely students from the Al-Azhar university like me. 

This fair are to facilitate cultural exchange and discussion, and ease relations between authors, publishers, and readers, and the fair is just that, complete with plenty of families and a relaxed atmosphere. A visit on your own or with friends is an excellent way to spend a morning, afternoon, or evening.

While there you can wander through the many halls of Egyptian and foreign bookstalls, stop by the guest of honor’s tent to see which country is being featured this year, swing by the Cultural Cafe for some lively discussion and often heated debates, check out signing events and readings by prominent and up-and-coming authors, or take a break at one of the many food stalls/restaurants. 

This is the best and sometimes the only place to get many books that are published outside of Egypt and also a good time to stock up on titles put out by Egyptian publishers (both private and government-run), as most houses offer significant discounts both at their stalls at the fair and at their regular locations in the city. You can visit CIBF’s website for a searchable directory of publishers, a map of the fairgrounds, and a schedule of events. Admission is very reasonable, about 5 L.E for adults. 

Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Memahami Pelecehan Seksual Dan Cara Menanganinya

Sebagai orang berusaha mengabdi pada ilmu pengetahuan saya berpandangan bahwa buku adalah kebutuhan primer yang harus selalu saya penuhi setiap bulannya. Untuk memenuhi hal ini, paling tidak saya mengunjungi toko buku setidaknya satu kali sebulan jika ada uang lebih.

Siang tadi saya bersama dua kawan saya berniat mencari koleksi buku-buku bagus di American University Cairo (AUC) Book Store yang ada di kawasan Tahrir. Toko buku ini memang tidak terlalu banyak di kunjungi mahasiswa dari kawasan asia, bukan karena koleksinya yang tidak menarik tetapi harganya yang relatif mahal untuk ukuran kantong mahasiswa.

Karena salah satu kawan saya tidak menemukan buku yang dicari, kami akhirnya memutuskan menghadiri Muktamar al Kimah al Tsaniyah Mubadarah Ihna. Sebuah konferensi tinggi dari gerakan anti sexual harassment di Mesir. Ini merupakan konferensi kedua yang sudah di laksanakan.

Saya mengira ngira bahwa kehadiran saya di konferensi merupakan arahan Tuhan, ini karena acara ini cukup relevan mengingat baru-baru ini kasus pelecehan seksual akhir akhir inienjadi topik yang sering di beritakan. Terutama semenjak kasus oknum Ustadz di Bandung yang menghamili 14 santriwatinya. 

Seolah olah tuhan ingin mengatakan ke saya agar melek terhadap fenomena kekerasan seksual yang hanyak terjadi pada belakangan ini.

Dari konferensi ini ada beberapa point penting yang dapat menjadi catatan saya.

Pertama, selama ini banyak yang menyangka bahwa pelecehan seksual hanya sebatas pemerkosaan atau pemaksaan dalam melakukan hubungan intim. Nyatanya, ada banyak jenis perlakukan lain yang masuk ke dalam kategori pelecehan seksual, dan dapat mengakibatkan trauma dan gangguan kesehatan bagi korban.

Pelecehan seksual bisa kita katakan sebagai tindakan yang bernuansa seksual, baik yang disampaikan melalui kontak fisik maupun kontak non-fisik. Di mana tindakan tersebut dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, sehingga mengakibatkan gangguan kesehatan fisik maupun mental.
Sederhananya adalah perilaku yang berhubungan dengan seks yang tidak diinginkan, yang terjadi secara lisan, tindakan, maupun lewat isyarat.

Kedua, Lalu sebenarnya apa saja perilaku yang termasuk dalam kategori pelecehan seksual?

Pelecehan seksual bisa berupa : pemerkosaan dan percobaan pemerkosaan, emaksaan keinginan seksual yang tidak diinginkan, memegang, menyudutkan, bersender kepada seseorang yang tidak diinginkan, memandang dan melakukan gesture seksual, bercandaan, ejekan, komentar, pertanyaan, pernyataan seksual yang tidak diinginkan, Cat calls, komentar seksual terhadap bentuk tubuh, cara berpakaian, maupun penampilan orang lain. Ekspresi wajah, kedipan mata, throwing kisses atau licking lips juga bisa di katakan pelecehan seksual juga. dsb.

Ketiga, Bahwa pelecehan seksual terjadi pada satu dari tiga wanita di dunia dan pada satu dari enam pria. Dan ini dinormalisasI karena rape culture, victim blaming, kurangnya edukasi menyeluruh akan sexual behavior dan sexual violence. 

Rape culture sendiri adalah sebuah lingkungan di mana pemerkosaan dianggap lazim terjadi dan kekerasan seksual dinormalisasi. Rape culture dilakukan dan dibudayakan lewat pemakaian kata-kata misogynist (yang menyudutkan wanita), objektifikasi tubuh wanita, dan glamorisasi terhadap kekerasan seksual di kehidupan sehari-hari maupun di popular culture.

Diantara beberapa sikap yang termasuk rape culture  adalah : Menyalahkan korban dengan cara meneliti pakaian korban, mental state, motive, dan juga kelakuan korban. Menyepelekan pelecehan seksual ( Ex. Ahh, namanya juga laki-laki. Nafsu mereka memang lebih tinggi). Menolerir pelecehan seksual. Mengartikan "kelaki-lakian“ sebagai dominasi dan memiliki nafsu lebih tinggi ( sexually aggressive ). Mengartikan "kewanitaan“ sebagai penurut dan tidak lebih agresif secara seksual. Beranggapan bahwa hanya wanita "nakal“ lah yang bisa dilecehkan. Mengajarkan wanita supaya tidak dilecehkan dan tidak mengajarkan pria supaya tidak melecehkan

Keempat, sikap ini bisa victim blaming mengenyampingkan korban pelecehan seksual dan membuat mereka makin tidak mau menceritakan dan melaporkan kejadian. Sikap ini juga memperkuat alasan buatan si pelaku pelecehan (Ex. Kejadian ini terjadi karena salah korbannya) Pelecehan seksual bukan kesalahan korban, tetapi hal tersebut adalah pilihan si pelaku untuk tidak melakukannya. 

Kelima, ada beberapa cara agar bisa melawan  rape culture dan victim blaming. Diantaranya adalah : berpikir dan bersikap kritis terhadap bagaimana lingkungan dan media menggambarkan laki-laki, wanita, relationships, dan kekerasan.Tidak menggunakan bahasa yang mengobjektifikasi dan menyudutkan korban. Jika kalian melihat seseorang melakukan bercandaan seksual atau melakukan pelecehan, speak up. Jika seseorang bilang ke kalian bahwa dia dilecehkan, jadikan orang yang memberikan support, beri tahu si korban bahwa apa yang terjadi bukan kesalahan dia dan jangan biarkan si pelaku beralasan konyol terhadap apa yang dia perbuat, seperti menyalahkan korban atau keadaan. Artikan sendiri "kelaki-lakian“ dan "kewanitaan“, terlepas dari stereotip yang ada.

Terakhir, jadilah pengamat yang aktif, karena diam berarti membuat rape culture dan pelecehan seksual terus dianggap lazim di masyarakat.

Kairo, 11 Desember 2021


Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Chairman at Representative Board of Nahdlatul Wathan in Egypt. Founder Syekh Zainuddin Institute. Moeslem Scholar, with special interest in islamic law, philosophy, and Literature. Currently studying in Al Azhar University Cairo.

Follow Me

  • Facebook
  • twitter
  • instagram
  • Linkedin
  • Email
  • youtube

Google Scholar

Google Scholar

Postingan Populer

  • Belajar ber-Islam dari Negeri Piramida
  • Cadar Dalam Persfektif Sejarah dan Hukum Islam
  • Assalamualaikum : Sebuah Puisi Karya Anis Susan
  • Menjaga Kewarasan dengan Beragama
  • Isra' Mikraj Nabi Muhammad : Kenyataan atau Khayalan
  • Cara Membuat Surat Lamaran Kerja

Catatan Harian

Catatan Harian Abdul Malik Edukasi Mahasiswa Nahdlatul Wathan PWK NW MESIR

Akademia

Conference Dunia Kampus Forum Seminar

Studi Islam

Fikih Nahdlatul Wathan PWK NW MESIR Sastra Arab

Blog Archive

Created byThemeXpose