Menjaga Kewarasan dengan Beragama
Setiap orang dalam kehidupannya pasti pernah memiliki problem dan problem yang dihadapi oleh setiap orang tentu sangat bervariasi, tapi umumnya tidak terlepas dari persoalan urusan pemenuhan kebutuhan (baik jasmani maupun ruhani) dari masing-masing individu.
Setiap orang tentu memiliki keinginan untuk dapat mencukupi kebutuhan (jasmaninya) secara mudah. Berbagai jalan dan usaha dilakukan untuk dapat memenuhi kebutuhannya tersebut. Tidak jarang, walaupun sudah dengan berbagai upaya, tetapi usahanya tersebut belum dapat mewujudkan apa yang diinginkannya.
Kelelahan, kekesalan, kejenuhan, rasa putus-asa, gundah, dan sebagainya pun bercampur menjadi satu. Semuanya terasa amat sulit, terlebih bila dibarengi dengan problem-problem lain, seperti si doi yang menuntut segera dilamar (ciah..) hasrat ingin membahagiakan orang tua dan cita cita yang masih hanya menjadi mimpi. Semua ini sangat mendukung seseorang mengalami stres, frustasi, bahkan dapat mengakibatkan depresi dan gangguan jiwa.
Stres dan depresi saya kira tidak hanya berbahaya secara kejiwaan, tetapi juga ternyata berbahaya untuk fisik (tubuh), ini karena stres dan depresi secara tidak langsung akan berakibat pada kerusakan fisik. Gangguan umum yang terkait dengan stres dan depresi adalah beberapa bentuk penyakit kejiwaan, gangguan tidur, gangguan pada kulit, perut dan tekanan darah. Tentu saja stres dan depresi bukanlah satu-satunya penyebab semua ini, namun secara ilmiah telah dibuktikan bahwa penyebab gangguan kesehatan semacam itu biasanya bersifat kejiwaan.
Kasus seorang Ibu rumah tangga di Berebes yang menggorok anaknya karena alasan adanya ketakutan tidak dapat memenuhi kebutuhan ekonomi anak-anaknya adalah kasus terbaru yang menunjukkan bagaimana pentingnya menjaga kesehatan mental untuk mengelola stres.
Di lain sisi, tidak jarang juga orang yang merasa hampa dengan kehidupannya, padahal ia memiliki kemandirian finansial dan kemapanan dalam hidup. Namun, tetap merasa ke-hampaan dalam hidupnya Hal ini merupakan gambaran kehidupan yang nyata dari sebagian orang di masa sekarang.
Dalam kondisi seperti ini saya beranggapan bahwa peran agama-agama sangat terasa membantu dalam menentramkan kejiwaan seseorang. Tidak hanya Islam saja tetapi ini juga berlaku untuk agama-agama selain Islam. Agama mampu meredam gejolak problem kejiwaan dan berperan sebagai sarana untuk mengatasi frustasi yang dialami seseorang.
Keengganan orang-orang yang jauh dari agama untuk taat kepada Tuhan menyebabkan mereka terus-menerus menderita perasaan tidak nyaman, khawatir, dan stres. Akibatnya, mereka terkena berbagai macam penyakit kejiwaan yang mewujud pada keadaan raga mereka. Tubuh mereka lebih cepat mengalami kerusakan, dan mereka mengalami penuaan yang cepat dan lemah.
Ketika seseorang menderita stres, tubuhnya bereaksi dan membangkitkan tanda bahaya sehingga memicu terjadinya beragam reaksi biokimia dalam tubuh. Kadar adrenalin dalam aliran darah meningkat; penggunaan energi dan reaksi tubuh mencapai titik tertinggi; gula, kolesterol dan asam-asam lemak tersalurkan ke dalam aliran darah; tekanan darah meningkat dan denyutnya mengalami percepatan. Ketika glukosa tersalurkan ke otak, kadar kolesterol naik. Dalam rentang waktu lama berujung pada kemunculan dini gangguan-gangguan seperti diabetes, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kanker, penyakit pernafasan.
Kondisi seperti di atas dapat menimpa siapa saja, terutama bagi orang-orang yang tidak memiliki kedamaian rasa dalam dirinya.
Dalam hal ini, semua pakar psikologi sepakat bahwa orang yang agresif, pemarah, tidak sabar, khawatir, cemas, dan mudah tersinggung akan memiliki peluang lebih besar terkena penyakit atau gangguan sebagaimana disebutkan di atas. Terlebih dalam kondisi dan perkembangan peradaban saat ini, yang sangat mudah memicu munculnya keadaan seperti diatas.
Dalam QS. Taha: 124 & QS.Ali Imran :159 Allah swt menunjukkan bahwa dengan beragama, seseorang akan terhindar dari apa yang di istilahkan sebagai kesempitan dan kegelapan (buta).
Agama memang tidak memberikan pemenuhan kebutuhan secara jasmani, namun agama menawarkan kepuasan rasa (lewat syukur) dan kepasrahan terhadap segala apa yang terjadi.
Dengan demikian, akan menciptakan kedamaian yang menghindarkan diri dari ketidaknyamanan, kekhawatiran, dan kegundahan jiwa. Intinya dalam kondisi apapun, agama dapat muncul sebagai jawaban atas segala problem manusia dan menjadi penampakan tertinggi yang secara misterius sangat membantu seseorang dalam menemukan kedamaian jiwanya.
0 Comments