Memahami Pelecehan Seksual Dan Cara Menanganinya
Sebagai orang berusaha mengabdi pada ilmu pengetahuan saya berpandangan bahwa buku adalah kebutuhan primer yang harus selalu saya penuhi setiap bulannya. Untuk memenuhi hal ini, paling tidak saya mengunjungi toko buku setidaknya satu kali sebulan jika ada uang lebih.
Saya mengira ngira bahwa kehadiran saya di konferensi merupakan arahan Tuhan, ini karena acara ini cukup relevan mengingat baru-baru ini kasus pelecehan seksual akhir akhir inienjadi topik yang sering di beritakan. Terutama semenjak kasus oknum Ustadz di Bandung yang menghamili 14 santriwatinya.
Seolah olah tuhan ingin mengatakan ke saya agar melek terhadap fenomena kekerasan seksual yang hanyak terjadi pada belakangan ini.
Dari konferensi ini ada beberapa point penting yang dapat menjadi catatan saya.
Pertama, selama ini banyak yang menyangka bahwa pelecehan seksual hanya sebatas pemerkosaan atau pemaksaan dalam melakukan hubungan intim. Nyatanya, ada banyak jenis perlakukan lain yang masuk ke dalam kategori pelecehan seksual, dan dapat mengakibatkan trauma dan gangguan kesehatan bagi korban.
Kedua, Lalu sebenarnya apa saja perilaku yang termasuk dalam kategori pelecehan seksual?
Pelecehan seksual bisa berupa : pemerkosaan dan percobaan pemerkosaan, emaksaan keinginan seksual yang tidak diinginkan, memegang, menyudutkan, bersender kepada seseorang yang tidak diinginkan, memandang dan melakukan gesture seksual, bercandaan, ejekan, komentar, pertanyaan, pernyataan seksual yang tidak diinginkan, Cat calls, komentar seksual terhadap bentuk tubuh, cara berpakaian, maupun penampilan orang lain. Ekspresi wajah, kedipan mata, throwing kisses atau licking lips juga bisa di katakan pelecehan seksual juga. dsb.
Ketiga, Bahwa pelecehan seksual terjadi pada satu dari tiga wanita di dunia dan pada satu dari enam pria. Dan ini dinormalisasI karena rape culture, victim blaming, kurangnya edukasi menyeluruh akan sexual behavior dan sexual violence.
Rape culture sendiri adalah sebuah lingkungan di mana pemerkosaan dianggap lazim terjadi dan kekerasan seksual dinormalisasi. Rape culture dilakukan dan dibudayakan lewat pemakaian kata-kata misogynist (yang menyudutkan wanita), objektifikasi tubuh wanita, dan glamorisasi terhadap kekerasan seksual di kehidupan sehari-hari maupun di popular culture.
Diantara beberapa sikap yang termasuk rape culture adalah : Menyalahkan korban dengan cara meneliti pakaian korban, mental state, motive, dan juga kelakuan korban. Menyepelekan pelecehan seksual ( Ex. Ahh, namanya juga laki-laki. Nafsu mereka memang lebih tinggi). Menolerir pelecehan seksual. Mengartikan "kelaki-lakian“ sebagai dominasi dan memiliki nafsu lebih tinggi ( sexually aggressive ). Mengartikan "kewanitaan“ sebagai penurut dan tidak lebih agresif secara seksual. Beranggapan bahwa hanya wanita "nakal“ lah yang bisa dilecehkan. Mengajarkan wanita supaya tidak dilecehkan dan tidak mengajarkan pria supaya tidak melecehkan
Keempat, sikap ini bisa victim blaming mengenyampingkan korban pelecehan seksual dan membuat mereka makin tidak mau menceritakan dan melaporkan kejadian. Sikap ini juga memperkuat alasan buatan si pelaku pelecehan (Ex. Kejadian ini terjadi karena salah korbannya) Pelecehan seksual bukan kesalahan korban, tetapi hal tersebut adalah pilihan si pelaku untuk tidak melakukannya.
Kelima, ada beberapa cara agar bisa melawan rape culture dan victim blaming. Diantaranya adalah : berpikir dan bersikap kritis terhadap bagaimana lingkungan dan media menggambarkan laki-laki, wanita, relationships, dan kekerasan.Tidak menggunakan bahasa yang mengobjektifikasi dan menyudutkan korban. Jika kalian melihat seseorang melakukan bercandaan seksual atau melakukan pelecehan, speak up. Jika seseorang bilang ke kalian bahwa dia dilecehkan, jadikan orang yang memberikan support, beri tahu si korban bahwa apa yang terjadi bukan kesalahan dia dan jangan biarkan si pelaku beralasan konyol terhadap apa yang dia perbuat, seperti menyalahkan korban atau keadaan. Artikan sendiri "kelaki-lakian“ dan "kewanitaan“, terlepas dari stereotip yang ada.
Terakhir, jadilah pengamat yang aktif, karena diam berarti membuat rape culture dan pelecehan seksual terus dianggap lazim di masyarakat.
Kairo, 11 Desember 2021
0 Comments