• Home
  • Profile
    • Profile
    • Academia
    • ORCID
    • Google Scholar
  • Table of Contents
  • Karya Tulis
    • Artikel Jurnal
    • Buku
    • Artikel Ilmiah Populer'
  • Catatan
    • Kegelisahan Intelektual
    • Forum Ilmiah
  • Studi Islam
    • Fikih
    • Filsafat
    • Sejarah
    • Tafsir
  • Syariah & Hukum
    • Hukum Internasional
    • Hukum Keluarga
    • Hukum Pidana
  • Tentang Blog
Youtube facebook Linkedin instagram twitter Email

Abdul Malik S.R.

Kemarin sore saya bersama kawan-kawan Perwakilan Nahdlatul Wathan (PWK NW) Mesir mendiskusikan Muktazilah sebagai bagian penting dalam pembahasan teologi Islam

Sangat menarik, karena kalau kita menelusuri sejarah perkembangan dan pemikiran dalam Islam, terutama dalam bidang teologi Islam kita akan menjumpai dua aliran terbesar yaitu Teologi Liberal (Muktazilah) dan Teologi Tradisional (Ahlussunah Wal Jamaah & Muktazilah) 

Dalam pandangan Teologi Muktazilah bahwa akal memililo kekuatan, dengan meneliti alam semesta akal dapat sampai ke alam abstrak. Al-Qur'an mengajarkan menggunakan akal dan meneliti fenomena-fenomena alam untuk mengetahuai rahasia-rahasia di belakangnya. 

Dengan cara inilah akan sampai kepada kesimpulab bahwa akal sampai pada mengetahui adanya Tuhan, kwajiban mengetahui adanya Tuhan, mengetahui baik dan jahat, kewajiban mengerjakan yang baik dan menjauhi yang jahat. 

Dalam Aliran Mu'tazilah kedudukan akal begitu penting, maka wajarlah jika Mu'tazilah dikenal dengan Teologi Liberal. 

Sedangkan Teologi Tradisional adalah Aliran Teologi yang memberikan kedudukan lemah pada akal, menurut Teologi ini akal tidak mampu untuk mengetahui kewajiban-kewajiban manusia. untuk itu wahyu diperlukan. 

Namun kedua corak Teologi itu (Teologi Liberal dan Teologi Tradisional ) tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam dan bukan kafir. 

Ini karena mereka masih mengetahui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad SAW. adalah utusanNya, lagi pula mereka sama-sama mengetahui bahwasanya Al Qur'an dan Al Hadits kebenarannya Absolut. 

Dalam literatur sejarah sendiri mencatat bahwa Aliran Mu'tazilah yang dikenal kuat menjalankan ajaran Qur'an dan Hadits Nabi SAW. banyak menggunakan akal. Pemakaian akal yang diterapkan 

Mu'tazilah bukan dalam lapangan IPTEK saja, tetapi juga dalam menginterpresatikan wahyu Tuhan dan Sunnah Nabi, sehingga pemikiran keagamaannya bercorak rasional Juga pembahasan tentang dasar-dasar agama buat pertama kali secara filosofis ditangan Mu'tazilah, setelah mereka mempelajari Filsafat Yunani. Timbullah dalam sejarah pemikiran Islam Ilmu Kalam, yaitu ilmu tauhid yang bersifat filosofis.

Ini bukan berarti bahwa rasio dalam pengkajian tentang dasar-dasar agama tanpa batas. Dalam ilmu kalam atau Teologi Islam, para mutakallimin (Ahli Kalam) baik dari kalangan Mu'tazilah maupun dari kalangan lain seperti Ahlussunnah.

Perbedaan yang kuat antara mereka itu adalah; bahwa Mu'tazilah lebih bersifat Liberal dalam arti, berani melepaskan diri 

dari arti lafzi dalam menginterpretaskan Teks Ayat dan Sunnah Nabi SAW. dari pada Teologi Tradisional ( Ahlussunnah ). Dengan kata lain Mu'tazilah banyak memakai arti majasi atau metaforis ayat dari pada Ahlussunnah yang lebih terikat pada arti lafzi ayat. 

Mu'tazilah yang sudah tidak ada kecuali hanya dalam sejarah itu, nampaknya pemikiran-pemikiran Rasionalnya mulai ditimbulkan kembali oleh pemuka-pemuka pembaharuan dalam Islam abad XIX, seperti; Jamaludin Al Afgani, Muhammad Abduh ( Mesir ) dan Muhammad Khan ( India dan Pakistan ). 

Di Indonesia diera modern dan kemajuan IPTEK abad XX sekarang ini, ajaran-ajaran Mu'tazilah yang lebih bersifat rasional 

dan mulai timbul dikalangan umat Islam terutama dikalangan ilmuwan-ilmuwan muslim yang berpendidikan barat.

.... 

Kairo, 13 November 2021. (Catatan acara Monthly Forum : Telaah Teologi Rasional Muktazilah) 

Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Menjaga Kewarasan dengan Beragama

Setiap orang dalam kehidupannya pasti pernah memiliki problem dan problem yang dihadapi oleh setiap orang tentu sangat bervariasi, tapi umumnya tidak terlepas dari persoalan urusan pemenuhan kebutuhan (baik jasmani maupun ruhani) dari masing-masing individu. 

Setiap orang tentu memiliki keinginan untuk dapat mencukupi kebutuhan (jasmaninya) secara mudah. Berbagai jalan dan usaha dilakukan untuk dapat memenuhi kebutuhannya tersebut. Tidak jarang, walaupun sudah dengan berbagai upaya, tetapi usahanya tersebut belum dapat mewujudkan apa yang diinginkannya. 

Kelelahan, kekesalan, kejenuhan, rasa putus-asa, gundah, dan sebagainya pun bercampur menjadi satu. Semuanya terasa amat sulit, terlebih bila dibarengi dengan problem-problem lain, seperti si doi yang menuntut segera dilamar (ciah..) hasrat ingin membahagiakan orang tua dan cita cita yang masih hanya menjadi mimpi. Semua ini sangat mendukung seseorang mengalami stres, frustasi, bahkan dapat mengakibatkan depresi dan gangguan jiwa.

Stres dan depresi saya kira tidak hanya berbahaya secara kejiwaan, tetapi juga ternyata berbahaya untuk fisik (tubuh), ini karena stres dan depresi secara tidak langsung akan berakibat pada kerusakan fisik. Gangguan umum yang terkait dengan stres dan depresi adalah beberapa bentuk penyakit kejiwaan, gangguan tidur, gangguan pada kulit, perut dan tekanan darah. Tentu saja stres dan depresi bukanlah satu-satunya penyebab semua ini, namun secara ilmiah telah dibuktikan bahwa penyebab gangguan kesehatan semacam itu biasanya bersifat kejiwaan.

Kasus seorang Ibu rumah tangga di Berebes yang menggorok anaknya karena alasan adanya ketakutan tidak dapat memenuhi kebutuhan ekonomi anak-anaknya adalah kasus terbaru yang menunjukkan bagaimana pentingnya menjaga kesehatan mental untuk mengelola stres. 

Di lain sisi, tidak jarang juga orang yang merasa hampa dengan kehidupannya, padahal ia memiliki kemandirian finansial dan kemapanan dalam hidup. Namun, tetap merasa ke-hampaan dalam hidupnya  Hal ini merupakan gambaran kehidupan yang nyata dari sebagian orang di masa sekarang.

Dalam kondisi seperti ini saya beranggapan bahwa peran agama-agama sangat terasa membantu dalam menentramkan kejiwaan seseorang. Tidak hanya Islam saja tetapi ini juga berlaku untuk agama-agama selain Islam. Agama mampu meredam gejolak problem kejiwaan dan berperan sebagai sarana untuk mengatasi frustasi yang dialami seseorang. 

Keengganan orang-orang yang jauh dari agama untuk taat kepada Tuhan menyebabkan mereka terus-menerus menderita perasaan tidak nyaman, khawatir, dan stres. Akibatnya, mereka terkena berbagai macam penyakit kejiwaan yang mewujud pada keadaan raga mereka. Tubuh mereka lebih cepat mengalami kerusakan, dan mereka mengalami penuaan yang cepat dan lemah. 

Ketika seseorang menderita stres, tubuhnya bereaksi dan membangkitkan tanda bahaya sehingga memicu terjadinya beragam reaksi biokimia dalam tubuh. Kadar adrenalin dalam aliran darah meningkat; penggunaan energi dan reaksi tubuh mencapai titik tertinggi; gula, kolesterol dan asam-asam lemak tersalurkan ke dalam aliran darah; tekanan darah meningkat dan denyutnya mengalami percepatan. Ketika glukosa tersalurkan ke otak, kadar kolesterol naik. Dalam rentang waktu lama berujung pada kemunculan dini gangguan-gangguan seperti diabetes, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kanker, penyakit pernafasan. 

Kondisi seperti di atas dapat menimpa siapa saja, terutama bagi orang-orang yang tidak memiliki kedamaian rasa dalam dirinya. 

Dalam hal ini, semua pakar psikologi sepakat bahwa orang yang agresif, pemarah, tidak sabar, khawatir, cemas, dan mudah tersinggung akan memiliki peluang lebih besar terkena penyakit atau gangguan sebagaimana disebutkan di atas. Terlebih dalam kondisi dan perkembangan peradaban saat ini, yang sangat mudah memicu munculnya keadaan seperti diatas. 

Dalam QS. Taha: 124 & QS.Ali Imran :159 Allah swt menunjukkan bahwa dengan beragama, seseorang akan terhindar dari apa yang di istilahkan sebagai kesempitan dan kegelapan (buta). 

Agama memang tidak memberikan pemenuhan kebutuhan secara jasmani, namun agama menawarkan kepuasan rasa (lewat syukur) dan kepasrahan terhadap segala apa yang terjadi. 

Dengan demikian, akan menciptakan kedamaian yang menghindarkan diri dari ketidaknyamanan, kekhawatiran, dan kegundahan jiwa. Intinya dalam kondisi apapun, agama dapat muncul sebagai jawaban atas segala problem manusia dan menjadi penampakan tertinggi yang secara misterius sangat membantu seseorang dalam menemukan kedamaian jiwanya. 

Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Chairman at Representative Board of Nahdlatul Wathan in Egypt. Founder Syekh Zainuddin Institute. Moeslem Scholar, with special interest in islamic law, philosophy, and Literature. Currently studying in Al Azhar University Cairo.

Follow Me

  • Facebook
  • twitter
  • instagram
  • Linkedin
  • Email
  • youtube

Google Scholar

Google Scholar

Postingan Populer

  • Belajar ber-Islam dari Negeri Piramida
  • Cadar Dalam Persfektif Sejarah dan Hukum Islam
  • Assalamualaikum : Sebuah Puisi Karya Anis Susan
  • Menjaga Kewarasan dengan Beragama
  • Isra' Mikraj Nabi Muhammad : Kenyataan atau Khayalan
  • Cara Membuat Surat Lamaran Kerja

Catatan Harian

Catatan Harian Abdul Malik Edukasi Mahasiswa Nahdlatul Wathan PWK NW MESIR

Akademia

Conference Dunia Kampus Forum Seminar

Studi Islam

Fikih Nahdlatul Wathan PWK NW MESIR Sastra Arab

Blog Archive

Created byThemeXpose