Dalam Al-Quran, Sunnah dan Sirah Nabawiyah kita banyak menemukan keunikan atau bisa kita katakan sebagai keganjilan, atau setidaknya tidak seperti yang biasa kita temui di masa kita.
Salah satu contoh paling dasar adalah hubungan Nabi SAW dan keempat khalifahnya. Rupanya mereka berlima selain sebagai guru dan murid, terikat juga dalam hubungan mertua dan menantu.
Nabi SAW itu menantu dari dua shahabat utama yaitu Abu Bakar dan Umar. Puteri Abu Bakar dan Puteri Umar, yaitu Aisyah dan Hafshah, keduanya dinikahi dan dipoligami oleh Nabi SAW.
Anehnya, atau lebih tepat kita sebut, uniknya, justru hubungan Abu Bakar dan Umar sangat akrab dan nempel. Padahal kalau pakai ukuran kita hari ini, seharusnya mereka tidak akur dong, kan putri mereka masing-masing dipoligami oleh satu orang yang sama.
Tapi justru keduanya malah tambah akrab. Buat logika dan kebiasaan kita hari ini, jelas unik sekali cara pandang mereka. Dipoligami malah tambah akrab. Hehe
...
Nabi SAW sendiri secara usia lebih tua dari dua orang mertuanya itu. Disebutkan bahwa Abu Bakar lebih muda dari Nabi SAW 2 tahun, sedangkan Umar lebih muda lagi.
Membayangkan punya mertua yang lebih muda, buat saya rasanya agak gimana. Apalagi ada orang. bahkan keduanya jadi murid atau bawahan saya. Wah pokoknya rada kikuk gitu deh
Buat kita umumnya, sosok mertua itu umumnya kita posisikan seperti orang tua kita sendiri. Tapi justru mertuanya malah dua tahun lebih muda, posisinya bawahan pula. Dua orang pula.
...
Begitu juga hubungan Nabi SAW dengan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhuma. Keduanya adalah menantu Nabi SAW.
Utsman malah dua kali jadi mantu. Pertama beliau menikahi puteri Nabi SAW yang bernama Ruqayyah, namun Ruqayyah sakit lalu wafat. Lalu Beliau menikahi adiknya Ruqayyah yang bernama Ummu Kaltsum. Orang bilang inilah yang namanya 'turun ranjang'.
Makanya Ustman bin Affan digelari Dzun Nurain, orang yang punya dua cahaya. Maksudnya dua puteri Nabi SAW jadi istrinya, tapi dalam kurun yang berbeda.
Sedangkan Ali bin Abi Thalib menikahi puteri nabi yang lain bernama Fatimah. Pernikahan kedua melahirkan banyak anak keturunan.
Uniknya, salah satu puteri mereka yang masih kecil bernama Ummu Kaltsum ternyata malah dinikahi oleh Umar bin Khattab radhiyallahuanhu.
Padahal saat itu Umar sudah jadi Khalifah, catatan sejarah menyebutkan tahun kejadiannya pada tahun ke-17 Hijriyah.
Jadi Umar ini dalam struktur keluarga sebagai mertuanya Nabi SAW, tapi sekaligus Umar juga menantu Ali. Padahal Ali adalah menantu Nabi SAW. Kan muter-muter itu namanya.
Kalau kita bikin diagram silsilah keluarga, pasti puyeng juga strukturnya. Sebab hubungan pernikahan mereka memang unik, setidaknya kurang lazim dengan kebiasaan kita.
. .
Apalagi ketika Nabi SAW dan keempat shahabat itu punya jabatan tertinggi dalam struktur kenegaraan di masa itu. Kelima tokoh itu masing-masing adalah kepala negara di masa jabatan masing-masing.
Jadi model kepemimpinan Nabi SAW dan Khulafaur Rasyidin yang selalu kita jadikan rule model sepanjang zaman, ternyata para penerus kepemimpinan kaum muslimin semuanya masih satu tali ikatan keluarga.
Kalau model kayak gini diterapkan di negeri kita sekarang, bisa-bisa dituduh oleh oposisi sebagai OLIGARKI kekuasaan, nepotisme, atau upaya membangun kerajaan keluarga dan seterusnya. Untungnya di masa itu belum ada oposisi, aktifis demo dan gerakan reformasi.
...
Pernikahan Politis
Beberapa pernikahan Nabi SAW juga kuat nuansa politisnya. Sebenarnya bukan politis, tapi pertimbangan dimensi dakwah.
Misalnya ketika Nabi SAW menikahi Ummul mukminin Juwairiyah radhiyallahuanha. Ibunda mukminin ini awalnya adalah tawanan perang yang merupakan puteri kepala suku musyrikin Bani Musthaliq, yang bernama Al-Harits.
Setelah kaumnya ditaklukkan, Juwairiyah seharusnya jadi budak yang diperjual-belikan di pasar budak.
Memang begitulah resiko kalah perang di masa itu, kalau tidak mati dibunuh, dijadikan budak dijual di pasar.
Budak wanita yang dijual di pasar itu akan dilelang dan akan jadi milik penawar tertinggi. Pembelinya akan memiliki tubuhnya dan sah untuk disetubuhi. Namanya juga budak, memang begitulah aturannya.
Namun Nabi SAW jatuh kasihan kepada Juwairiyah ini. Beliau SAW pun menawarkan kepadanya untuk masuk Islam saja. Ternyata mau masuk Islam. Maka Nabi SAW pun membebaskannya.
Jadilah Juwairiyah wanita merdeka. Bukan hanya jadi orang merdeka, bahkan kemudian nabi SAW pun mempersuntingnya menjadi istri bergelar Ummul Mukminin.
Menjadi salah satu istri Nabi SAW itu berarti menjadi permaisuri atau ratu, punya kedudukan tinggi, pastinya sangat dihormati dan dimuliakan oleh seluruh kaum muslimin sepanjang sejarah.
Mengetahui puteri kepala suku mereka diperlakukan dengan sangat terhormat, maka seluruh keluarga besar Bani Musthaliq pun luluh, klepek-klepek dan langsung menyatakan diri masuk Islam.
Perang bertahun-tahun pun usai, berganti jadi masuk Islamnya seluruh barisan musuh ke dalam Islam.
