• Home
  • Profile
    • Profile
    • Academia
    • ORCID
    • Google Scholar
  • Table of Contents
  • Karya Tulis
    • Artikel Jurnal
    • Buku
    • Artikel Ilmiah Populer'
  • Catatan
    • Kegelisahan Intelektual
    • Forum Ilmiah
  • Studi Islam
    • Fikih
    • Filsafat
    • Sejarah
    • Tafsir
  • Syariah & Hukum
    • Hukum Internasional
    • Hukum Keluarga
    • Hukum Pidana
  • Tentang Blog
Youtube facebook Linkedin instagram twitter Email

Abdul Malik S.R.



Title : Ummuna Hajjah Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid: Ulama Perempuan dan Transformasi Pendidikan Islam di Lombok-Nusa Tenggara Barat


Journal: Nahdlah: Jurnal Pendidikan Islam | Vol. 3, No. 2, Desember 2023


Ulyan Nasri,1* Abdul Malik Salim Rahmatullah2


1 Institut Agama Islam Hamzanwadi NW Lombok Timur

2 Al-Azhar University Cairo


*Corresponding Author


DOI: https://doi.org/10.51806/an-nahdlah.v3i2.82


Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, terlebih dalam lembaga pendidikan agama. Madrasah atau pesantren hadir di tengah masyarakat sebagai pencetak kader-kader beriman bertakwa seperti ulama, tuan guru ataupun pendakwah. Istilah ulama yang sering kita jumpai mengacu pada mereka yang berjenis kelamin laki-laki, sangat sedikit dari kalangan perempuan yang bisa diakui sebagai ulama. Tidak mudah menelusuri keulamaan perempuan di Indonesia, namun dalam pergerakannya, perempuan telah banyak berkiprah, berkontribusi dalam peradaban, pendidikan dan pemberdayaan seperti yang ditunjukkan oleh Hj. Siti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid dalam melanjutkan perjuangan ayahanda tercinta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana biografi Hj. Siti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid sekaligus memaparkan dedikasi beliau dalam dunia pendidikan islam. Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa dedikasi Hj. Siti Raihanun Zainuddin Abdul Majid sebagai ulama perempuan dalam pendidikan Islam dibuktikan dengan kontribusinya dalam kehidupan sosial masyarakat sasak karena dalam diri beliau terdapat ciri keulamaan berupa kepemilikan ilmu, akhlak, karomah, pengabdiannya di masyarakat melalui perannya dalam melanjutkan perjuangan sang ayah dalam mensyiarkan agama Islam serta organisasi Nahdlatul Wathan, sebagai sosok uswah hasanah dalam kepemimpinannya di pondok pesantren Syaikh Zainuddin Nahdlatul Wathan Anjani Lombok Timur


(Unduh disini)

Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Dalam Al-Quran, Sunnah dan Sirah Nabawiyah kita banyak menemukan keunikan atau bisa kita katakan sebagai keganjilan, atau setidaknya tidak seperti yang biasa kita temui di masa kita.

Salah satu contoh paling dasar adalah hubungan Nabi SAW dan keempat khalifahnya. Rupanya mereka berlima selain sebagai guru dan murid,  terikat juga dalam hubungan mertua dan menantu.

Nabi SAW itu menantu dari dua shahabat utama yaitu Abu Bakar dan Umar. Puteri Abu Bakar dan Puteri Umar, yaitu Aisyah dan Hafshah, keduanya dinikahi dan dipoligami oleh Nabi SAW.

Anehnya, atau lebih tepat kita sebut, uniknya, justru hubungan Abu Bakar dan Umar sangat akrab dan nempel. Padahal kalau pakai ukuran kita hari ini, seharusnya mereka tidak akur dong, kan putri mereka masing-masing dipoligami oleh satu orang yang sama.

Tapi justru keduanya malah tambah akrab. Buat logika dan kebiasaan kita hari ini, jelas unik sekali cara pandang mereka. Dipoligami malah tambah akrab. Hehe

... 

Nabi SAW sendiri secara usia lebih tua dari dua orang mertuanya itu. Disebutkan bahwa Abu Bakar lebih muda dari Nabi SAW 2 tahun, sedangkan Umar lebih muda lagi. 

Membayangkan punya mertua yang lebih muda, buat saya rasanya agak gimana. Apalagi ada orang. bahkan keduanya jadi murid atau bawahan saya. Wah pokoknya rada kikuk gitu deh

Buat kita umumnya, sosok mertua itu umumnya kita posisikan seperti orang tua kita sendiri. Tapi justru mertuanya malah dua tahun lebih muda, posisinya bawahan pula. Dua orang pula. 

... 

Begitu juga hubungan Nabi SAW dengan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhuma. Keduanya adalah menantu Nabi SAW. 


Utsman malah dua kali jadi mantu. Pertama beliau menikahi puteri Nabi SAW yang bernama Ruqayyah, namun Ruqayyah sakit lalu wafat. Lalu Beliau menikahi adiknya Ruqayyah yang bernama Ummu Kaltsum. Orang bilang inilah yang namanya 'turun ranjang'. 


Makanya Ustman bin Affan digelari Dzun Nurain, orang yang punya dua cahaya. Maksudnya dua puteri Nabi SAW jadi istrinya, tapi dalam kurun yang berbeda. 


Sedangkan Ali bin Abi Thalib menikahi puteri nabi yang lain bernama Fatimah. Pernikahan kedua melahirkan banyak anak keturunan.


Uniknya, salah satu puteri mereka yang masih kecil bernama Ummu Kaltsum ternyata malah dinikahi oleh Umar bin Khattab radhiyallahuanhu. 


Padahal saat itu Umar sudah jadi Khalifah, catatan sejarah menyebutkan tahun kejadiannya pada tahun ke-17 Hijriyah. 


Jadi Umar ini dalam struktur keluarga sebagai mertuanya Nabi SAW, tapi sekaligus Umar juga menantu Ali. Padahal Ali adalah menantu Nabi SAW. Kan muter-muter itu namanya. 


Kalau kita bikin diagram silsilah keluarga, pasti puyeng juga strukturnya. Sebab hubungan pernikahan mereka memang unik, setidaknya kurang lazim dengan kebiasaan kita.

. . 

Apalagi ketika Nabi SAW dan keempat shahabat itu punya jabatan tertinggi dalam struktur kenegaraan di masa itu. Kelima tokoh itu masing-masing adalah kepala negara di masa jabatan masing-masing.


Jadi model kepemimpinan Nabi SAW dan Khulafaur Rasyidin yang selalu kita jadikan rule model sepanjang zaman, ternyata para penerus kepemimpinan kaum muslimin semuanya masih satu tali ikatan keluarga. 


Kalau model kayak gini diterapkan di negeri kita sekarang, bisa-bisa dituduh oleh oposisi sebagai OLIGARKI kekuasaan, nepotisme, atau upaya membangun kerajaan keluarga dan seterusnya. Untungnya di masa itu belum ada oposisi, aktifis demo dan gerakan reformasi. 

 ... 

Pernikahan Politis

Beberapa pernikahan Nabi SAW juga kuat nuansa politisnya. Sebenarnya bukan politis, tapi pertimbangan dimensi dakwah. 

Misalnya ketika Nabi SAW menikahi Ummul mukminin Juwairiyah radhiyallahuanha. Ibunda mukminin ini awalnya adalah tawanan perang yang merupakan puteri kepala suku musyrikin Bani Musthaliq, yang bernama Al-Harits. 

Setelah kaumnya ditaklukkan, Juwairiyah seharusnya jadi budak yang diperjual-belikan di pasar  budak. 

Memang begitulah resiko kalah perang di masa itu, kalau tidak mati dibunuh, dijadikan budak dijual di pasar. 

Budak wanita yang dijual di pasar itu akan dilelang dan akan jadi milik penawar tertinggi. Pembelinya akan memiliki tubuhnya dan sah untuk disetubuhi. Namanya juga budak, memang begitulah aturannya.

Namun Nabi SAW jatuh kasihan kepada Juwairiyah ini. Beliau SAW pun menawarkan kepadanya untuk masuk Islam saja. Ternyata mau masuk Islam. Maka Nabi SAW pun membebaskannya. 

Jadilah Juwairiyah wanita merdeka. Bukan hanya jadi orang merdeka, bahkan kemudian nabi SAW pun mempersuntingnya menjadi istri bergelar Ummul Mukminin.

Menjadi salah satu istri Nabi SAW itu berarti menjadi permaisuri atau ratu, punya kedudukan tinggi, pastinya sangat dihormati dan dimuliakan oleh seluruh kaum muslimin sepanjang sejarah.

Mengetahui puteri kepala suku mereka  diperlakukan dengan sangat terhormat, maka seluruh keluarga besar Bani Musthaliq pun luluh, klepek-klepek dan langsung menyatakan diri masuk Islam. 

Perang bertahun-tahun pun usai, berganti jadi masuk Islamnya seluruh barisan musuh ke dalam Islam. 

Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Chairman at Representative Board of Nahdlatul Wathan in Egypt. Founder Syekh Zainuddin Institute. Moeslem Scholar, with special interest in islamic law, philosophy, and Literature. Currently studying in Al Azhar University Cairo.

Follow Me

  • Facebook
  • twitter
  • instagram
  • Linkedin
  • Email
  • youtube

Google Scholar

Google Scholar

Postingan Populer

  • Belajar ber-Islam dari Negeri Piramida
  • Cadar Dalam Persfektif Sejarah dan Hukum Islam
  • Assalamualaikum : Sebuah Puisi Karya Anis Susan
  • Menjaga Kewarasan dengan Beragama
  • Isra' Mikraj Nabi Muhammad : Kenyataan atau Khayalan
  • Cara Membuat Surat Lamaran Kerja

Catatan Harian

Catatan Harian Abdul Malik Edukasi Mahasiswa Nahdlatul Wathan PWK NW MESIR

Akademia

Conference Dunia Kampus Forum Seminar

Studi Islam

Fikih Nahdlatul Wathan PWK NW MESIR Sastra Arab

Blog Archive

Created byThemeXpose